Aku sedang mengeja hela napas dalam siang itu
ketika tiba-tiba ada sesuatu dalam diriku yang bertanya,
"Apa yang telah kuberikan untuk orang lain?"
Seketika tak kuhiraukan lagi apakah aku telah bernapas hari ini
Aku sedang mengeja hela napas dalam siang itu
ketika tiba-tiba ada sesuatu dalam diriku yang bertanya,
"Apa yang telah kuberikan untuk orang lain?"
Seketika tak kuhiraukan lagi apakah aku telah bernapas hari ini
Apa yang kau tangisi, sahabatku?
Aku belum mati.
Tidak secara jasmani.
Apa yang membuatmu sedih, sahabatku?
Waktu yang telah kau sia-siakan bersamaku?
Ini bukan salahku.
Kau yang memilih untuk bersama denganku.
Apa yang kau rindukan, sahabatku?
Kalau aku, aku rindu dekat dengan-Nya.
Walau harus terbakar dalam neraka.
Imaji tentang apa yang dibisikkan setan padaku.
mendekap hangatku
takkan biar pergi
walau tercabik
walau terhujam
kemana nyanyian cinta itu
tak menggerutu
kembali membisu
hanya pilu kudapat
walau waktu harus datang dan pergi
aku akan tetap mencoba untuk tegar,
sampai waktuku tiba tuk pergi
pucuk-pucuk impian
masih berembun segar
kisah klasik menunggu
cinta dan waktu
tangis dan harap
menanti di tiap musim semi
semuanya berakhir
menjadi abu sia-sia belaka
pahit masih,
membeku masih
redupkan lentera kecil merah hati
terayun-ayun dibuai senja
sakit dan umpat
saling mengisi ruang kosong
hati yang berembun
kian menghangat resapi cinta
hasrat hidup tampakkan nyata
senada kian mengalun
harapan kan terjuntai
(by Kak Very)
Musik dari langit mengalun
Menyenandungkan suara hujan dan angin
Suara-suara dari langit
Kilat, guntur dan mendung itu
Memperdengarkan musik dari langit
Aku turun dari awan musim semi
Menuju ke layarmu
[Kaoru Origuchi]
ada kalanya sunyi kan tampilkan keadaan yang nyata,
jika memang keramaian gambarkan semu
kuingin aku ada di sudut kesunyian hatimu
(kak very)
Hanya tinggal puing-puing kelabu
Berdiri tegak menantang sang waktu
Tak pernah bosan walau tak tahu arah
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Helga Cleve